Campak

Campak

Campak adalah penyakit menular yang sering menyebabkan terjadinya Kejadian Luar Biasa. Campak dalah anggota dari Paramyxoviridae, dalam genus Morbillivirus. Penyakit ini menular melalui sistem pernapasan, terutama percikan ludah atau cairan yang keluar dari sistem pernapasan, seperti pada saat bersin, batuk, maupun berbicara (Kemenkes RI, 2017).

Campak adalah munculnya ruam kemerahan di seluruh tubuh akibat infeksi virus. Campak meupakan penyakit menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak-anak.

Kasus campak menyebar di daerah yang memiliki penduduk yang padat. Penyebaran kasus campak paling banyak terjadi di negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Kejadian campak di Indonesia cenderung meningkat pada tahun 2016, yaitu sebanyak 12.681 kasus, dengan Incidence Rate (IR) sebesar 5 per 100.000 penduduk dan terdapat 1 kasus meninggal yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Jumlah tersebut lenih tinggi dari tahun sebelumnya, tahun 2015 yaitu sebesar 10.655 kasus, dengan IR sebesar 3,20 per 100.000 penduduk. Jumlah kasus campak pada tahun 2015 lebih tinggi daripada tahun 2014, yaitu sebesar 12.944 kasus, dengan IR sbeesar 5,13 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2017).

Penyakit campak termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan tindakan imunisasi. Salah satu bentuk program imunisasi yang dilaksanakan oleh pemerintah yaitu imunisasi rutin yang terdiri dari imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan (Kemenkes RI, 2017).

Penyakit campak ini dapat diderita berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh dari setiap individu karena vaksin campak memiliki efikasi kurang lebih 85% sehingga kemungkinan anak yang belum memiliki kekebalan dan menjadi golongan yang sesnsitif terhadap kejadian campak (Kemenkes RI, 2017).

Penelitian dari Wahyunarni, Ahmad, dan Triratnawati (2016) menjelaskan bahwa persepsi masyarakat terhadap imunisasi campak dinilai masih kurang karena tidak semua masyarakat mengetahui pentingnya imunisasi campak dan beberapa masyarakat juga tidak merasakan manfaat dari imunisasi.

Faktor yang dapat mempengaruhi persepsi masyarakat dan pengambilan keputusan masayarakat untuk tidak melakukan imunisasi campak adalah adanya efek samping imunisasi campak, pengaruh perilaku pekerja kesehatan, dan tokoh agama terkait non-imunisasi campak, serta kurangnya pemerintah dalam menegakkan peraturan terkait daya tarik imunisasi campak.

Faktor penghambat dari pelaksanaan program imunisasi campak pada anak yaitu pengetahuan masyarakat yang minim, kurangnya informasi mengenai manfaat , dan tujuan terhadap program imunisasi yang kurang strategis, dan fasilitas kesehatan yang kurang memadai (Rahmawati, 2017).

Cara mencegah atau cara menyembuhkan penyakit campak yaitu

  1. Banyak mengkonsumsi air minum untuk mencegah dehidrasi
  2. Banyak istirahat serta hindari paparan sinar matahari selama mata masih sensitive terhadap cahaya
  3. Minum obat penurun demam dan obat pereda sakit serta nyeri

Pencegahannya yaitu dengan memberikan vaksin MMR (campak, gondongan, dan campak jerman). Vaksinasi MMR adalah vaksin gabungan untuk campak, gondongan, dan campak jerman. Vaksinasi MMR diberikan dua kali, pertama diberikan ketika anak berusia 15 bulan dan vaksin MMR berikutnya diberikan saat anak berusia 5-6 tahun atau sebelum memasuki masa sekolah dasar. Vaksin memiliki fungsi yang cukup penting dalam mencegah campak.

You May Also Like

Avatar

About the Author: @ly

Seorang yang sedang belajar dibidang Kesehatan Masyarakat, Menyukai hal-hal dibidang IT, Blogger, dan Traveller Blogging. Suka berbagi hal baru yang bermanfaat bagi orang lain dan tertarik dengan dunia marketing online khususnya Search Engine Optimization.